Hampir semua venture capital (VC) dan angel investor di Indonesia hanya bersedia menanamkan modal mereka pada startup yang berbentuk PT. Ini bukan hanya sekadar preferensi pribadi para investor, melainkan keharusan struktural yang berhubungan langsung dengan bagaimana investasi dapat berjalan secara legal dan aman bagi kedua belah pihak.
Kondisi seperti ini membuat seorang founder yang baru saja merintis bisnis sering merasa kebingungan, terutama ketika sebelumnya sudah terlanjur mendirikan usaha dalam bentuk CV karena biayanya yang lebih murah dan cepat.
Padahal, ketika sudah mulai masuk ke fase pencarian dana eksternal, keterbatasan struktural CV justru dapat menjadi hambatan besar yang menunda proses fundraising itu sendiri.
Seorang founder yang sedang mempersiapkan perusahaan startup-nya untuk fundraising akan memahami bahwa keharusan ini menjadi penting agar struktur fondasi legal bisnis sudah tepat sejak awal. Artikel ini akan membahas alasan-alasan fundamental mengapa PT menjadi bentuk badan usaha yang mutlak untuk startup.
Apa yang Dilihat Investor dari Bentuk Badan Usaha?
Investor tidak hanya menilai sebuah produk dan traksi bisnis semata, tetapi juga melakukan pemeriksaan terkait fondasi legal pada sebuah bisnis. Bentuk badan usaha akan menentukan bagaimana modal yang bisa masuk ke perusahaan, siapa yang akan mendapatkan perlindungan hukum, dan bagaimana mekanisme jika di kemudian hari mereka keluar dari usaha tersebut.
Terdapat banyak benefit yang didapatkan dari daftar keuntungan mendirikan PT. Di antara bentuk badan usaha yang terdapat di Indonesia, PT merupakan satu-satunya yang mampu memenuhi seluruh kriteria tersebut secara sempurna. Selain memahami hal ini, penting bagi seorang founder untuk mengetahui seperti apa keuntungan yang akan didapatkan ketika mendirikan PT secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi investasi semata.
Alasan Fundamental Startup Harus Berbentuk PT
Berikut ini beberapa alasan mendasar yang menjelaskan mengapa PT menjadi bentuk badan usaha yang paling sesuai, bahkan akan sangat dibutuhkan bagi bisnis startup yang ingin mengundang investor untuk menggalang dana.
1. Struktur Saham yang Jelas untuk Investor Masuk
Mekanisme yang dimiliki PT sangat jelas. Faktor ini mengakibatkan investor percaya dan dapat masuk dengan cara membeli sebagian saham dan mendapatkan porsi kepemilikan yang terukur. Semua kebutuhan penting seperti hak dan kewajiban yang tercatat secara resmi dalam anggaran dasar perusahaan juga sudah diatur sedemikian rupa. Sedangkan CV tidak memiliki struktur semacam ini.
Tanpa adanya mekanisme saham, tidak ada cara yang sah bagi investor secara hukum untuk bisa masuk ke dalam struktur kepemilikan bisnis, sehingga secara praktiknya, CV tertutup dari opsi pendanaan dengan jenis ini, baik untuk investasi tahap awal maupun putaran pendanaan lanjutan.
2. Limited Liability Melindungi Founder dan Investor
Pada mekanisme PT, harta milik pribadi dari founder maupun investor terpisah dari aset perusahaan. Apabila pada suatu waktu bisnis tersebut mengalami kegagalan atau kerugian, yang akan ditanggung hanya sebesar modal yang telah disetorkan, tanpa mengancam harta kekayaan pribadi dari masing-masing pihak.
Berbeda dengan CV, di mana sekutu aktif tetap menanggung kewajiban perusahaan menggunakan harta pribadinya. Bagi investor, tidak adanya perlindungan hukum semacam ini akan menjadi risiko yang tidak bisa diterima, mengingat investasi startup dasarnya sudah membawa risiko kegagalan bisnis yang cukup tinggi.
3. Bisa Terbitkan ESOP untuk Tim
Employee Stock Option Plan hanya bisa diterbitkan oleh badan usaha berbentuk PT. Skema ini akan memberikan hak kepada karyawan untuk membeli atau memiliki saham perusahaan pada harga dan periode tertentu.
Pada tahap awal, startup umumnya belum mampu menawarkan gaji yang setara dengan perusahaan besar, ESOP akan menjadi instrumen penting untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik melalui rasa kepemilikan atas pertumbuhan perusahaan.
4. Due Diligence Lebih Mudah dan Kredibel
Struktur tata kelola yang dimiliki PT (governance) yang jelas ini terdiri dari RUPS, Direksi, dan Komisaris, dengan pembagian wewenang yang dicatat dalam akta dan surat keputusan Kemenkumham.
Struktur yang tercatat dengan jelas memberikan kemudahan dalam proses due diligence oleh investor dan lebih kredibel, karena semua informasi mengenai aspek legal perusahaan, mulai dari struktur pemegang saham, riwayat perubahan anggaran dasar, hingga kewenangan pengambilan keputusan, dapat ditelusuri dengan mudah melalui dokumen resmi.
Ini jauh berbeda dengan kesepakatan informal antarpihak yang justru rawan menyebabkan sengketa di kemudian hari.
5. Exit Strategy Hanya Bisa di PT
Sejumlah jalur exit yang biasanya dilakukan oleh investor, seperti penjualan saham ke pihak lain (secondary sale), merger, akuisisi, hingga penawaran umum perdana (IPO), semuanya hanya bisa dilakukan melalui PT.
Sedangkan CV tidak memiliki mekanisme transfer kepemilikan yang jelas dan bersih secara hukum, sehingga opsi-opsi exit yang disebutkan di atas tidak dapat diterapkan pada badan usaha yang berbentuk CV. Bagi investor yang menanamkan modal dengan ekspektasi imbal hasil dalam beberapa tahun ke depan, ketiadaan jalur exit yang jelas ini menjadi faktor yang dapat menentukan keputusan investasi mereka.
6. Persyaratan Wajib dari Hampir Semua VC di Indonesia
Ketentuan yang dilampirkan bukan hanya sekadar opsional. Term sheet VC pada umumnya selalu mensyaratkan bahwa startup yang menerima investasi (investee) harus berbentuk PT sebagai bagian dari kondisi investasi.
Apabila startup tersebut masih berbentuk CV, proses konversi ke PT harus segera dilakukan terlebih dahulu sebelum pendanaan bisa cair, yang artinya ada tambahan waktu dan biaya yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal.
Tapi Bukannya CV Lebih Murah dan Cepat?
Pada poin ini memang benar, dari sisi biaya dan waktu, mendirikan CV memang lebih murah dan cepat ketimbang PT, apalagi saat founder masih berada di tahap validasi ide dan belum terpikirkan mengenai pendanaan eksternal. Karena hal tersebut, banyak startup yang pada langkah awalnya lebih memilih CV dengan pertimbangan efisiensi biaya.
Namun, bagi startup yang memiliki rencana untuk melakukan fundraising atau scaling di masa depan, biaya konversi CV ke PT nantinya akan jauh lebih mahal dan memakan waktu yang terbuang untuk proses tersebut. Selain itu, ada risiko proses fundraising yang tertunda karena investor menunggu status badan hukum selesai dikonversi terlebih dahulu.
Anda bisa membaca perbandingan kelebihan PT vs CV untuk pembahasan yang lebih lengkap, namun, secara umum, bagi startup yang sudah punya planning melakukan pendanaan sejak awal, mereka akan memilih PT sejak awal karena lebih efisien dibandingkan harus mengubah bentuk badan usaha nantinya.
Langkah Pertama: Dirikan PT untuk Startup Anda
Setelah memahami alasan PT menjadi keharusan bagi startup, langkah selanjutnya adalah mengetahui cara teknis mendirikan PT untuk startup, termasuk struktur saham yang tepat untuk rencana fundraising ke depannya.
Bangun Fondasi Legal Startup Anda Sekarang
Mempersiapkan fondasi legal yang jelas dan tepat sejak awal akan sangat memudahkan proses fundraising di masa yang akan datang, sekaligus dapat menghindari founder dari biaya konversi yang tidak perlu.
Apabila Anda ingin menyelesaikan proses pendirian yang lebih praktis dan sesuai dengan kebutuhan startup, ada solusi yang bisa membantu Anda dengan jasa pendirian PT dari Creya, mulai dari kebutuhan penyusunan struktur saham hingga dokumen legal lengkap yang siap untuk digunakan, dan proses fundraising bisa kami tangani. Setiap prosesnya pasti transparan.